Hari Film Nasional, 5 Film Indonesia yang Ada di Netflix

Berita Gosip – Hari Film Nasional adalah salah satu momen untuk menghargai kreativitas dan pembuat film dan aktor Indonesia. Dari tahun ke tahun, film-film Indonesia semakin mendapat pengakuan dan penghargaan internasional.

Oktober lalu, pertama kali Netflix meluncurkan film asli Indonesia The Night Comes for Us. Melalui film ini, Netflix membuka jalan bagi pembuat film dan pemain film lokal untuk dapat menunjukkan karya mereka kepada khalayak global. Selain The Night Comes for Us, sekarang penggemar film juga dapat menikmati berbagai karya Indonesia lainnya di Netflix.

Dalam konteks Hari Film Nasional, berikut ini adalah rekomendasi untuk beberapa film Indonesia terbaik dari berbagai genre yang dapat Anda tonton di Netflix.

The Night Comes for Us

The Night Comes for Netflix Original Indonesia film pertama kami mengisahkan tentang Ito (Joe Taslim), mantan anggota Triad dan misinya untuk melindungi seorang anak dari bekas organisasinya. Ito melakukan upaya penyelamatan untuk menebus kesalahannya di masa lalu.

The Night Comes for Us telah diputar di berbagai festival film bergengsi di dunia, termasuk Fantastic Fest dan Sitges Film Festival, dan berhasil mendapatkan banyak tanggapan positif dalam acara tersebut. Film karya Timo Tjahjanto ini menggelar serangkaian seniman terkenal di Indonesia, termasuk Joe Taslim, Iko Uwais, Zack Lee, Julie Estelle, Dian Sastrowardoyo, dan Hannah Al Rashid.

Ada apa Dengan Cinta? (Ada Apa dengan Cinta?)

Bercerita tentang cinta dua remaja bernama Cinta (Dian Sastrowardoyo) dan Rangga (Nicholas Saputra), Ada Apa Dengan Cinta? adalah salah satu film yang membangkitkan kualitas industri film Indonesia. Meski alur ceritanya cukup sederhana, Rudi Soedjarwo, Mira Lesmana, dan Riri Reza sebagai pembuat film berhasil menjaring hati para penggemar dengan adegan romantis yang berkesan. Selain romansa, film ini juga menampilkan pertemanan, keluarga, hingga kondisi politik Indonesia saat itu.

Ada apa Dengan Cinta? menerima beberapa penghargaan di Festival Film Indonesia 2004, termasuk Pemimpin Wanita Terbaik untuk Dian Sastrowardoyo dan Sutradara Terbaik untuk Rudi Soedjarwo.

Sebelum Iblis Mengambil (Semoga Iblis Membawa Anda)

Setelah mendapati ayahnya terkena penyakit misterius, Alfie (Chelsea Islan) pergi bersama saudara lelakinya dan ibu tirinya ke sebuah vila tua milik keluarganya. Saat berada di villa, mereka menemukan rahasia yang menakutkan tentang perjanjian ayah dengan iblis di masa lalu.

Disutradarai oleh Timo Tjahtjanto, Before Devil Picking adalah film bergenre horor pertama yang dibintangi Chelsea. Proses pengambilan gambar berlangsung di daerah terpencil pada tengah malam. Keterampilan akting Chelsea dalam film ini menuai banyak pujian.

Single

Film komedi Single menceritakan kisah miskin Ebi (Raditya Dika), seorang lelaki berusia 27 tahun yang kesepian dan tidak memiliki pekerjaan, yang mencari pacar untuk diperkenalkan kepada ibunya. Bersama dua temannya, pria berpengetahuan Wawan (Pandji Pragiwaksono) dan pria pesimistis Victor (Babe Cabita), Ebi berusaha keras untuk mendapatkan perhatian wanita idamannya, Angel (Annisa Rawles), dan menjauhkannya dari saingannya, Joe (Chandra Liow).

Tidak hanya dikenal sebagai penulis buku komedi, Raditya Dika berhasil membuktikan keterampilan aktingnya dalam film Single, di mana ia juga memainkan peran sebagai sutradara dan penulis naskah dalam film tersebut.

Rudy Habibie

Disutradarai oleh Hanung Bramantyo, Rudy Habibie adalah biografi salah satu mantan presiden Indonesia, BJ Habibie. Melalui film ini, kita bisa melihat berbagai masalah yang dihadapi Habibie ketika dia muda, dari kesulitan tinggal di luar negeri hingga mempertahankan idealisme.

Aktor pemenang penghargaan Reza Rahadian berhasil menghidupkan kembali sosok Habibie melalui keterampilan aktingnya, termasuk berbicara dan berjalan.

Berlatar tahun 1970-an, film ini menceritakan tentang 10 anak desa yang bersekolah di gedung reyot. Harfan (Ikranagara) dan teman-temannya, yang memiliki kelompok bernama Laskar Pelangi, harus berusaha keras untuk mempertahankan sekolah mereka dan melanjutkan pendidikan mereka.

Diadaptasi dari novel populer yang ditulis oleh Andrea Hirata, Laskar Pelangi menggambarkan keindahan persahabatan dan ketekunan dalam perjuangan hidup anak-anak dalam mencapai impian.

Laskar Pelangi berhasil memenangkan banyak penghargaan dari berbagai festival film nasional dan internasional, termasuk kategori Film Terbaik dari Festival Film Indonesia 2009, Penghargaan SIGNIS dari Festival Film Internasional Hong Kong 2009, dan Penghargaan Kupu-kupu Emas dari International Children & Young ke-23 Festival Film Dewasa, Iran 2009.